Pelajaran motivasi dari "candle problem"

Masih ingat tentang studi "Masalah Lilin" (candle problem) ?

Jika belum, coba cek video TED yang di publish tahun 2009 ini : 

https://www.youtube.com/watch?v=rrkrvAUbU9Y


Tugas dari studi ini pada tahun 1945 adalah :

bagaimana menempelkan lilin di dinding sehingga tidak ada lilin yang tercecer di atas meja.


Lalu penelitian ini berlanjut...

Yang ingin mempelajari "Kekuatan dari insentive (hadiah)"


Dibagi 2 kelompok.

Kelompok pertama dijelaskan tugasnya dan diberi informasi rata-rata waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.

Di kelompok kedua, ditambahkan informasi tentang hadiah yang didapat jika mereka bisa menyelesaikan dengan waktu 25% tercepat, dan yang paling cepat akan mendapat hadiah spesial. 


Lalu bagaimana hasilnya?

Ternyata kelompok ke-2, yang di infokan tentang hadiah, malah 3,5 menit lebih lama dibandingkan rata-rata.

Diberikan iming-iming, tapi ternyata hasilnya lebih lama....


Lalu : "Apakah artinya HADIAH itu MENGHAMBAT orang berpikir dan bekerja KREATIF?"

 

Hal ini yang akhirnya menjadi studi kasus atau temuan yang sangat menarik. Artinya dalam satu kasus atau suatu pekerjaan atau aktivitas tertentu, hadiah itu bukan membuat semakin produktif.

Padahal kita pernah melakukan atau sering :

- memberi tugas anak, dan memberikan hadiah jika menjalankan perintah kita

- memberi reward kepada tim yang mencapai target

Apakah itu cara yang benar dan efektif?


Disini ternyata mulai di explorasi lebih jauh tentang :

Motivasi internal x Motivasi eksternal

.

Motivasi eksternal atau juga dikenal dengan reward and punishment atau carrot and stick, sangat popoler digunakan oleh HR ataupun bisnis baik skala kecil sampai korporasi. Dan ini memang cukup bekerja untuk pekerjaan-pekerjaan simple dan teknis (mekanistik).

Lalu di buat experimen berikutnya, dengan tugas yang sama, tetapi dijelaskan detail step by stepnya, fokus, tujuan akhir seperti apa, sampai dilengkapi dengan SOP. Atau bisa dibilang pekerjaan dengan otak kiri saja. Maka group dengan insentif akan bekerja dengan lebih perform.

.

Tetapi dalam kasus riil "candle problems", hanya ada instruksi bagaimana menempelkan lilin di dinding sehingga tidak ada lilin yang tercecer di atas meja, pola insentif ternyata tidak berhasil.

Karena dalam kasus ini diperlukan otak kanan, membuat konsep, kreativitas, dan pemikiran out of the box.


Lalu apa insight yang didapat?

Sekarang cek ulang pekerjaan yang dilakukan di dalam bisnis atau kantor Anda.

Apakah pekerjaan itu bersifat mekanistik atau lebih pekerjaan berpikir?


.

Inilah kenyataan yang kita hadapi saat ini. Pekerjaan yang bersifat mekanistik sudah sangat jauh berkurang. Semua sudah pakai robot, pakai komputer, otomatisasi.

Coba lihat, teller bank semakin sedikit, tidak ada lagi penjaga tol tanya xonci-nya mana, perakitan di pabrik sudah dengan robot, dan banyak hal-hal lainnya...

.



Lalu bagaimana di bisnis kamu?

Kita harus lebih fokuskan membangun motivasi internal.

Dalam berbagai teori motivasi, ada 3 hal yang perlu dibangun :

1. Autonomy : setiap orang memiliki kemandirian atas pekerjaannya

2. Mastery : setiap orang bisa menjadi lebih baik (pengetahuan & skill) pada hal-hal yang penting

3. Purpose : bisa memberikan dampak yang lebih besar dari diri kita sendiri


Ini telah dilakukan di google. 20% waktu bisa mengerjakan hal lainnya.

dilakukan di wikipedia.

dan mungkin di lakukan di bisnis kamu juga....


.

Maka dari hal diatas, kita bisa belajar dari beberapa sudut pandang :

1. Jenis pekerjaan bersifat mekanis atau berpikir?

2. Apakah reward punishment meningkatkan produktivitas?

3. Perlukah SOP di pekerjaan kreatif dan berpikir?


semoga bermanfaat.

cek foodketo.com biar kamu makin sehat dan bahagia


Postingan Populer