Temukan mesin cetak uang kamu, dan jadikan senjata terbesar....
Jadi ingat :
Aktiflah di "active income"
dan Pasiflah di "passive income"
jangan kebalik ya......
.
kenali apa "mesin cetak uang" pribadi kamu :
- pekerjaan saat ini
- bisnis online
- bisnis sampingan
- kontrakan / kos-kosan
- deviden saham
- (semua yang menambah saldo rekening)
.....adalah senjata terbesar kamu.
.
.
Sadari bahwa saat ini ada pergeseran besar, tidak hanya di Indonesia lho.... tapi di dunia
- Sistem Rusak: Pemerintah akan terus berutang (di US sampai $38T dan menghabiskan uang tanpa hasil yang jelas....MGB? KopMP? Rapat2? )
- Solusi = Cetak Uang: Satu-satunya jalan keluar bagi bank sentral (The Fed) adalah mencetak lebih banyak uang (QE), yang akan melemahkan nilai mata uang.
- Hasil = Inflasi Ganda: Ini akan menyebabkan inflasi aset (harga saham/Bitcoin naik) sekaligus inflasi harga konsumen (biaya hidup akan makin mahal).
- "Smart Money": Institusi dan bahkan pemerintah pasti mencari "asset baru" sebagai "cadangan strategis" seperti emas. (HODL)
🎯 Insight: Musuh Anda Bukan Waktu, Tapi Inflasi
Target Financial Freedom saat ini bisa jadi bukan sekedar mendapatkan aset yang cukup untuk biaya hidup saat ini.
Karena inflasi, biasa 5 tahun, 10 tahun kedepan akan makin besar....
.
Contoh :
Pengeluaran 10 juta / bulan = 120 juta/tahun. Dengan 4% rule, butuh modal Rp 3 Miliar.
Target Realistis, dengan inflasi, biaya hidup naik ke 15 juta/bulan (180 juta/tahun).
Maka akan butuh modal Rp 4.5 Miliar.
.
Ini hampir mustahil dicapai hanya dengan "menabung" uang kertas (fiat).
Kita harus berada dalam mode "perang".
.
Strategi harus memiliki dua fokus:
- Defensif: Melindungi daya beli dari inflasi yang tak terhindarkan.
- Offensif: Menggunakan bisnis dan semua penghasilan untuk mengakumulasi hard asset secepat mungkin.
.
.
STRATEGI: Menjadi "Bank Sentral" Bagi Diri Sendiri
Lupakan cara berpikir "investor ritel". Berpikirlah seperti pemerintah dan "Bank Sentral" yang memiliki "neraca" (aset) dan "mesin cetak uang" (pajak).
Misal punya:
Neraca : Saham + Emas + Bitcoin. Ini adalah "Cadangan Strategis".
Mesin Cetak Uang : Pekerjaan, Bisnis, Property sewaan.
.
Bahkan ada "Strategi Mark Moss" : menggunakan "mesin cetak uang" untuk membeli "cadangan strategis" sebanyak-banyaknya, karena nilai dari "uang cetak" (Rupiah, Dolar) itu sendiri akan terus turun.
Eng-ing-eng.....
*tentu itu ada risiko yang cukup besar jika tidak tahu ilmunya.
.
.
📋 REAL PLAN: Rencana Perang 5 Tahun
Ini bukan rencana "santai".
Ini adalah rencana untuk mencapai target Financial Freedom (35% CAGR).
.
Fase 1: Perkuat Benteng & Siapkan Amunisi (Bulan 1-3)
Tujuan : adalah memiliki arus kas (cash flow) yang kebal inflasi dan cadangan yang aman.
Audit Biaya Hidup: Hemat pengeluaran. Pertahankan. Jangan biarkan lifestyle ikut "berinflasi". Setiap kenaikan pendapatan tidak boleh menaikkan pengeluaran.
Bangun Dana Darurat (Sangat Penting!): Alokasikan 3 / 6 / 12 bulan biaya hidup dalam aset likuid (tunai) -> simpan di Reksadana Pasar Uang (likuid) atau stablecoin (USDC/USDT) yang bisa stake untuk mendapatkan imbal hasil (melawan inflasi).
"Inflate-Proof" Bisnis : Apakah produk/jasa harganya bisa naik dengan mudah seiring inflasi?
Cek margin, jangan terlalu tipis. Miliki target paling tidak net profit 10-15%. Fokus pada peningkatan profit margin, bukan hanya omzet.
.
.
Fase 2: Eksekusi Alokasi Aset (Bulan 4 - Tahun 5)
Setelah Dana Darurat aman,
setiap Rupiah profit dari bisnis adalah amunisi.
.
"Cadangan Strategis" yang sudah di akumulasi : JANGAN DIJUAL.
Emas, Saham, Bitcoin, Property adalah fondasi.
Jangan trading.
Jangan coba-coba timing the market.
Ini adalah aset "HODL" (Hold On for Dear Life).
.
"Aliran Amunisi Baru" (Profit bulanan dari penghasilan):
Setiap bulan (atau minggu), setelah semua biaya operasional dan biaya hidup terbayar, sapu bersih sisa profit (Free Cash Flow).
Konversikan profit Rupiah tersebut dengan alokasi yang lebih agresif.
Misal :
- 70% ke Bitcoin. Mengapa?
Karena ini adalah "taruhan asimetris". Ini adalah "mesin masa depan".
- 30% ke Saham / perusahaan yang kebal inflasi.
Cari perusahaan yang punya pricing power (seperti barang konsumsi primer yang dominan) atau yang diuntungkan dari kenaikan harga komoditas.
.
Metode: DCA Brutal (Dollar Cost Averaging) -> Gunakan Otomatisasi.
Setiap tanggal 1, misalnya, berapa pun profit bulan lalu, langsung eksekusi: 70% beli BTC, 30% beli Saham. Tanpa mikir. Tanpa melihat harga. Ini menghilangkan emosi dan memastikan terus mengakumulasi.
.
.
Fase 3: Tinjau & Bersiap untuk "Keluar" (Tahun 4-5)
Setiap akhir tahun, hitung ulang:
- Berapa total nilai portofolio saya (Aset Lama + Aset Baru)?
- Berapa biaya hidup aktual saya sekarang?
- Berapa angka Financial Freedom saya yang baru?
.
Rencana "De-Risking" dan Pensiun
Katakan kita sudah mencapai target asset di tahun ke 5 atau tahun ke 10.
Kita harus mulai "menuai" atau panen.
Kita perlu merubah kembali ke aset yang lebih umum diterima pasar.
Katakan pemerintah masih berkuasa dan mengendalikan fiat.
Maka kita tidak bisa membiayai pensiun dengan aset yang 100% volatil.
.
Ada beberapa strategy, misal yang cukup reasonable :
Rencana "Keluar sesuai Biaya HIDUP TAHUNAN", Jual 5-20% dari total portofolio senilai biaya hidup tahunan (misal, jual Rp 150.000.000 dari total Rp 4.5 Miliar) dan pindahkan ke aset penghasil pendapatan tetap yang membosankan (misal: Obligasi Negara, Reksadana Pendapatan Tetap, atau saham blue chip pembagi dividen).
Dari dana Rp 150 juta inilah yang akan gunakan untuk hidup, sementara sisa asset lainnya tetap diinvestasikan di BTC/Saham/property untuk terus bertumbuh melawan inflasi.
.
Simak strategy lain :
https://ceritafinancialfreedom.blogspot.com/2025/07/3-strategy-mengambil-profit-dari.html
.
Rasanya sistem ini cukup masuk akal dan bisa diterapkan.
Bagaimana menurut kamu?

Gabung dalam percakapan