Benarkah cukup itu cukup?

Sudah sejauh mana kamu mengenal angka cukup-mu?

Ada yang suka detail dengan menghitung rincian :

Misal : 

  • Makan 
  • Transport 
  • Cicil hutang
  • Internet 
  • Listrik 
  • Iuran RT / RW
  • Air 
  • Pulsa telepon 
  • Belanja makan mingguan / bulanan 
  • LPG 
  • Sekolah anak 
  • Sabun, odol, dll 
  • Makan di luar
  • Jalan2 / Entertain 

Lalu di total hasilnya berapa _______________


Ada yang gak mau ngitung, aliran kira-kira. Ya sekitar 7 juta / bulan, eh 10 juta / bulan, mmmm... cukup gak ya, mungkin 15 juta per bulan.


ini pertanyaan mudah, tapi kadang susah jawabnya. 

Kalau saya pribadi, selama bisa dihitung yang dihitung saja.

Kalau bingun di catet aja setiap pengeluaran dalam 1 bulan. Pasti tahu nilainya.


Lalu kalau pakai ukuran UMR apa bisa? ya, bisa saja. Misal pengeluaran kamu bisa dibawah UMR ya berarti kamu termasuk hebat mengelola keuagan.


Kalau saya bagaimana?

Mungkin lebih menganut aliran harus lebih besar pemasukan dari pada pengeluaran.

benar gak sih ? 

.

.

Menarik ketika mendengar cerita dari sahabat di bali.

Dia pemilik sebuah restoran kecil yang "Lebih banyak menolak pelanggan daripada yang diterima".

Tempatnya saat ini sudah terkenal, sangat ramai, dan orang yang ingin makan harus menelpon atau memesan tempat terlebih dahulu.

Cuma tersedia 8 meja disana. 

Apakah tidak ada rencana untuk menambah meja atau pindah ke tempat yang lebih luas?

Jawabannya mengagetkan : "Tidak" katanya dengan tegas "malahan kami ingin menambah hari libur kami menjadi 2 hari dalam seminggu"

"Saya dan Suami tidak sedang berkompetisi dalam mengumpulkan harta, kami tidak ingin menjadi lebih stress karena menambah luas atau jumlah resto.Kami tahu limit kami dan kami masih ingat tujuan kami pindah ke desa ini adalah untuk hidup lebih seimbang"

.

.

Jawabannya bikin saya kaget banget!

Selama ini kita selalu diajarkan untuk meraih sesuatu yang lebih dan lebih.

.

Pertanyaan renungan yang perlu kita jawab :

"Apakah kita akan menjadi lebih bahagia dengan mindset yang menginginkan menjadi lebih kaya, makmur, sukses, berkembang dan sejenisnya?"

.



.

Itulah bukti cukup yang hakiki.

Menemukan kebahagiaan dan mampu melepas ketakutan akan masa depan.

Ketakutan akan asumsi dan pandangan orang lain.

Karena berkelimpahan adanya dalam hati.

.

Apakah mungkin seseorang mampu bersyukur dengan hati yang selalu merasa kekurangan?

.

Pesan bijak dari sahabat :

Kita perlu melatih diri untuk melihat kedalam, mengurangi kebiasaan kita membandingkan juga bersaing.

Menikmati apa yang tersedia dan menerima apa yang terjadi.

Ada manusia yang ingin terus mengumpulkan lebih, dengan begitu ia bisa memberi lebih pada yang lain, tapi di sisi lain ada juga manusia yang berkata cukup dengan keyakinan semesta-lah yang akan berbagi pada yang lain.


Karena kebijaksanaan yang telah dihadirkan Allah jauh lebih tinggi dan telah terbukti dari diri manusia yang dangkal dan penuh ego ini. 


Wallahu a’lam bish-shawabi, “Dan Allah Mahatahu yang benar atau yang sebenarnya”. 


Postingan Populer