Kapan kamu merasa "cukup" ?

Coba ingat lagi ketika kamu masih kecil,
wah pinter nih, udah bisa jalan, udah bisa makan sendiri.

Lalu beranjak ke TK
Ayo anak tk dituntut untuk tahu huruf, tahu angka 1-20

Lalu ke SD
Anak SD dianggap pintar jika lancar baca, bisa menghitung cepat, pintar menyanyi, bisa main alat musik atau sudah bisa koding dasar misalnya

Lalu ke SMP, SMA, kuliah, sampai mulai berkarir...
dengan berbagai tuntutan-tuntutan lainnya.

.
.

Kita dituntut untuk terus naik dan naik...

bahkan misalkan berbisnis,
kamu sudah berhasil mendapat omzet 10jt,
ayo naikin lain jadi 100jt,
terus dituntut untuk naik lagi jadi 500jt, terus ke 1 Milyar, terus ke 10 Milyar....

seakan-akan tidak akan ada habisnya.

Kata orang seberang : "The sky is the limit".

Dalam berbagai kategori kehidupan kita, banyak sekali "jebakan-jebakan" seperti itu.

Dari urusan penghasilan, tabungan, materi, jenjang pendidikan, karir, hubungan, sosial, dan coba sebutin deh kalau kamu tahu....
.
.

.
lalu...

kapan kamu bisa merasa "cukup" ?
kapan kamu bisa merasa bersyukur atas apapun kondisi yang sudah kamu capai?


Jujur, buat aku pribadi pertanyaan ini menarik banget.
Saya pribadi mendengar pertama kali pertanyaan ini dari Mas Jaya Setiabudi.

.
Sampai akhirnya saya ketemu satu referensi yang cukup menarik untuk menjawap pertanyaan diatas.

1. Mindset

Jika kamu dulunya waktu sekolah suka rangking, trus masuk kampus favorit, kamu bisa bekerja di perusahaan multi nasional, tentu pernah merasa insecure.

Insecure? jajan apaan tu?

hahaha... cari aja sendiri di google deh.

trus mindset yang seperti apa?
Mungkin banyak ya, tapi kita akan coba bahas tentang "mindset of scarcity vs abundance"

Mindset scarcity ini berpikir takut akan kekurangan, harus memperebutkan pasar, juara itu cuma satu, dan konsep lainnya yang lebih menekankan pada kelangkaan. Ini akan menimbulkan motivasi menjauhi, takut tidak bisa makan, takut sakit, takut miskin, dan takut hal-hal buruk lainnya.

Sedangkan untuk menemukan rasa cukup, kita harus mampu memiliki mindset abundance. Artinya keberlimpahan. Ketika sudah menyadari bahwa segala sesuatu di muka bumi ini berlimpah, maka kita akan mudah menemukan "cukup".


2. Angka yang spesifik

Nah, bagian pertama tadi kita bahas dari sisi otak kanan. Kreatifitas, ekspresif dan imajinatif.

Selanjutnya agar seimbang, kita perlu mengkongkritkan dengan angka yang spesifik. Agar otak kiri yang terkait logika juga bisa menerima kata "cukup".

Berapa sih uang yang kamu perlukan untuk hidup?
Tentu jawabannya bisa beraneka ragam.
Tetapi jika kita membuat beberapa referensi maupun standar, paling tidak kita bisa menggunakan acuan seperti UMR di tempat kita tinggal misalnya.

Jika kamu merasa UMR tidak bisa mewakili, bisa jadi hitungannya adalah 2x UMR untuk pasangan yang sudah menikah.

2,5x UMR untuk pasangan dengan 1 orang anak
3x UMR untuk pasangan dengan 2 orang anak

Riilnya misalkan pasangan suami istri dengan 2 orang anak,
maka kira kira memerlukan biaya hidup bulanan Rp. 13.925.562

(Data money.kompas.com UMP Jakarta Rp 4.641.854)





Lalu bagaimana dengan kamu?

tentukan nilaimu sendiri.
jika kamu bisa hidup cukup 2jt sebulan, bagus
jika kamu bisa hidup dengan 5jt sebulan, it's okay

yang penting, selama kamu bisa hidup dibawah income kamu.

Jangan sampai income 5jt per bulan, tapi pengeluaran 7jt per bulan.
Jangan sampai income 50jt per bulan, tapi pengeluaran 70jt per bulan.

simple banget kan....

.
.


Nah, disini berikutnya kita perlu belajar juga tentang investasi dan mempersiapkan masa pensiun kita. Masa dimana bisa jadi kita sudah tidak bisa lagi bekerja, atau tidak memiliki energi untuk menjalankan bisnis seperti waktu kita masih muda.

Disini saya banyak mengexplorasi juga tentang passive income.
Bagaimana saya bisa tetap mendapatkan income walau tidak lagi bekerja.

mau tahu caranya?


Terakhir...

Sadari bahwa bahagia itu bukan saja tentang uang dan sukses.


Bahagia itu tentang ...
bersyukur
melakukan hobi dan hal yang kita suka
have fun dan tertawa lepas
berbagi dan berkontribusi.

ya... happy ikigai



Postingan Populer